MADIN T TI


Senin, 19 Agustus 2013




SEJARAH GAMPONG PENAGA RAYEUK



Pada masa kerajaan Aceh ada sebuah kerajaan yang bertahta diwilayah barat selatan provinsi Aceh yaitu raja Aceh Ali Muhayat Syah pada tahun 1511 yang melakukan pelayaran kewilayah kerajaan Sumatra Barat (Padang) untuk silaturrahmi. Dengan bersilaturrahmi kemudian antara kedua raja tersebut sepakat untuk mengadakan pertandingan adu kerbau dengan beberapa perjanjian-perjanjian antara lain:
1.      Apabila raja Aceh kalah, maka akan menyerahkan kapal layarnya kepada kerajaan Padang
2.      Apabila raja Padang kalah, maka akan menyerahkan sebagian wilayahnya kepada kerajaaan Aceh
Setelah waktu yang disepakati bersama antara kedua raja tersebut, maka raja Aceh yang pada saat itu menyiapkan seekor kerbau jantan yang kuat dengan diberikan hiasan adat Aceh seperti kain selempang kuning. Sementara kerajaan padang menyiapkan anak kerbau yang masih menyusui pada induknya, dengan membiarkan anak kerbau tersebut haus dan lapar. Sampai pada waktu yang sudah disepakati bersama maka kedua kerbau tersebut dimasukan dalam arena pertandingan, tetapi apa yang terjadi? Karena kerbau milik raja Padang yang masih menyusui begitu melihat induk kerbau langsung ingin menyusui. Sehingga kerbau milik raja Aceh langsung lari tunggang langgang.
Sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati maka raja Aceh mengaku kalah, dan pada saat ingin memberikan kapal kerajaan Aceh kepada kerajaan Padang, tetapi kerajaan Padang menolaknya dengan merubah beberapa kebijakan bersama dalam menjalin persaudaraan yang lebih dekat yang pada intinya “apabila ada kegiatan dikerajaan Aceh tolong diberitahukan kepada kerajaan Padang dan begitu pula sebaliknya” karena kerajaan Padang sudah menganggap kerajaan Aceh sebagai saudara maka raja Aceh meminta kepada raja Padang untuk menempati wilayah dikerajaan Aceh yang belum dihuni.
Atas permintaan raja Aceh tersebut maka raja Padang mengutus tujuh (7) orang datuk dari kerajaan untuk menempati wilayah tersebut, diantara ketujuh datuk tersebut adalah:
1.      Datuk Patikanalom
2.      Datuk Genta Alam
3.      Datuk Seru Alam
4.      Datuk Rajo Meden
5.      Datuk Jangguik Ameh
6.      Datuk Tangah Hari
7.      Datuk Susang Bulu
Dari ketujuh datuk tersebut yang tinggal menetap hanya empat (4) datuk, yaitu: Datuk Seru Alam, Datuk Tangah Hari, Datuk Jangguik Ameh dan Datuk Rajo Meden. Yang hingga sampai sekarang kuburanya ada diwilayah kecamatan Mereubo, dengan tinggal dan menetapnya mereka sehingga terjadilah perkawinan antara suku Aceh dengan suku Padang. Yang hingga sekarang dapat dilihat dari bahasa mereka, percampuran antara Aceh dengan Padang (Jamee). Dan pada masa itu diwilayah tersebut tumbuh sebatang tumbuhan bernama Panagoe yang tinggi dan besar, dan dari perkawinan tersebut sehingga terbentuklah sebuah kelompok masyarakat yang diberi nama Panagoe Gadang. Kata panagoe gadang berasal dari tumbuhan panagoe yang tinggi dan besar atas prakarsa Datuk Tangah Hari.

Berdasarkan perbauan bahasa Aceh dengan bahasa Padang (Jamee), gadang yang artinya “Rayeuk” dalam bahasa Aceh penaga rayeuk adalah terjemahan dari bahasa Padang (Jamee).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar